Finally...i said... by Dwi Esti on Tuesday, August 7, 2010 at 11:38pm

Been running from this feeling for so long
Telling my heart I didn't need it
Pretending I was better off alone
But I know that it's just a lie
So afraid to take a chance again
So afraid of what I feel inside.......................But I need to be next to you

Penggalan lagu Leigh Nash ini..adalah gambaran hati saya sekarang. Jam ini...saya merindukannya. Walaupun saya tahu....itu hanya ada dalam impian saya saja. Dan perasaan seperti ini ... adalah yang paling saya benci....dari dulu. Tapi saya tahu....ini yang seharusnya terjadi....

Tidak ada sesuatu kejadianpun tanpa ijinMU...saya mempunyai perasaan inipun pasti atas ijinMU. Dan saya ingin mengatakan kepadaMU Rabb....

Hamba mohon...
Jika perasaan ini bukan hak saya....Tolong, ambil kembali dari hati saya.,,,

Dwi Esti saya senang bisa menulis ini ...ungkapan hati saya..and thank to FB yang sudah membuatt saya bisa menghiden ini dari semua orang.
August 7 at 12:31pm

Dwi Esti Rabb...saya senang karena akhirnya ada komentar di status saya. Engkau pasti tahu....Engkau kan Maha Tahu. Tapi hamba mohon....ambil ini dari hati saya. Saya butuh bertahan Rabb...
August 7 at 3:08pm

Dwi Esti Rabb...Wahai Yang Maha Tahu isi hati...sampai kapan saya harus membohongi diri saya sendiri, jikalau perasaan ini semakin kuat. Rabb...Jangan jadikan perasaan ini menjadi maksiat bagi diri hamba..
Rabb...ampuni hamba jikalau rasa ini salah d...See More
August 8 at 10:39pm

Dwi Esti Rabbku Yang Maha Rahim....tolong saya...menata hati saya...
August 9 at 10:20pm

Dwi Esti Rabbku...jikalau malam ini hamba bisa tersungkur di hadapanmu..insya Allah akan hamba lakukan. Rabb....hamba ingin menangis dihadapanMu..hamba lemah Ya Rabb. Ampuni hamba...ampuni hamba Ya Ghoffar. Jika ini bukan yang terbaik untuk hamba...hamba Mohon..Jangkan Kau biarkan hamba terus mengharap. Jadikan diri hamba iklas apapun yang telah Kau tuliskan bagi diri hamba.....Engkaulah sebaik-baik penolong bagi diri hamba...
August 9 at 10:52pm · Like ·

Dwi Esti Rabbku..Lindungi saya, adik2 saya dan orang2 yang saya sayangi, termasuk mas adi dalam KeberkahanMu di Bulan sucimu ini. Berikan kami kesehatan pikiran, kesehatan jasmani...agar kami bisa melalui Bulan suciMu denga hati iklas. Tambahkan ilm...See More
August 10 at 11:34pm · Like ·

Dwi Esti saya ingin dia sehat...
August 12 at 1:28pm · Like ·

Dwi Esti Rabb...dibulanMU yang indah ini, saya pasrahkan hati dan diri saya kepadaMU. Saya sudah tidak mampu lagi untuk membohongi diri saya sendr, tapi saya juga tidak bisa berbuat apa2 lagi. Ini semua dalam genggamanMu...hamba pasrah pada ketentuanMu.
August 13 at 10:45pm · Like ·

Dwi Esti Rabb...saya ingin menanyakan bagaimana keadaannya sekarang, apakah sehat..tapi saya sudah malu melakukannya. Engkau Maha Penjaga...Tolong jaga dia..
August 14 at 11:34pm · Like ·

Dwi Esti setiap saya menemukan keindahan...saya ingin membagi dengannya..
August 16 at 11:07pm · Like ·

Dwi Esti Rabb...Engkau pasti Tahu, ada rasa perih dalam dada ini, stiap kali tidak menanggapiku...apalagi bila ada yang berkata bahwa dia sedang bermimpi tentang orang lain...Rabb...tolong hamba...
August 18 at 4:46am · Like ·

Dwi Esti Rabb....tolong saya....i hate this feeling..

August 24 at 10:25pm · Like ·
Dwi Esti Allohu Rabbi...hari ini...ingin kurendahkan suaraku dan kutundukkan wajahku
hamba ingin mendengar kata hati hamba sendiri...
hingga hamba menulis ini....hamba menyanyanginya...
dengan alasan yang hingga saat ini belum bisa kutau...
Jaga dia de...See More
Sunday at 11:44pm · Like ·

Jengkol dan Pete....apa mau anda lepas juga? Peluangnya?


Bisa tertawa ya melihat awal judul ini. Saya sendiri memang bukan orang yang suka menyantap buahan ini. Terus terang tidak bisa merasakan dibagian mana nikmatnya buahan ini. Sebagian orang ditempat kerja saya dulu gemar sekali menjadikan kedua buahan bau ini dalam menu makanannya. Pithecollobium jiringa atau Jengkol merupakan tanaman khas Asia tenggara. Demikian juga dengan petai (Parkia speciosa).

Tapi ternyata memang banyak yang gemar menjadikan kedua buahan ini sebagai teman makan. Penambah nafsu makan kata teman saya. Wah kalo bisa menambah nafsu makan, buat saya bisa ngeri..hehehe. Makanan yang identik dengan "segmen bawah" ini (saya agak tidak enak menyebutnya) beberapa tahun lalu sempet mengejutkan saya. Bukan karena baunya. Karena potensi usaha yang dimilikinya.

Beberapa hari ini di Home FB saya, sedang banyak orang membagi note tentang kekayaan negeri ini yang selama ini sudah dikeruk habis-habisan oleh perusahaan-perusahaan asing. Alhamdullilah ada yang mengingatkannya kembali, padahal banyak majalah sudah mengulas habis masalah ini jauh-jauh hari bahkan tahun yang lalu. Tapi satu yang saya agak sayangkan, yang dibahas hanya kekayaan yang kasat mata saja. Okelah...kalau itu anda merasa sulit mencegah, kita pertahankan yang masih benar-benar kita pegang. Ada banyak kekayaan alam. Salah satunya petai dan Jengkol.

Pasti tertawa lagi dengan pernyataan saya. Semoga anda sedikit bisa menahan tawa setelah anda membaca cerita saya. Ketika saya masih kerja di Lampung, saya baru tahu, buahan "segmen bawah" ini bisa menjadikan seseorang menjadi eksekutif. Apa lagi ini?

Saya cuti 2 bulan sekali dan biasa pulang cuti mengunakan 2 kendaraan umum, kalau tidak kereta api ya bis langsung dari Lampung. Hehehe...agak sombong sedikit...bukan apa2 sebenarnya...masa saya sudah capai kerja naik kendaraan yang biasa saja. Dan alhamdullilah, saya masih bisa memilih kendaraan yang berAC, dengan kursi yang bisa diatur. Susah men....eksekutif klas.

Dalam bus langsung Jurusan Jogja dari Lampung ini, sering sekali saya bersama seorang laki-laki, masih muda, Dandanan Oklah..keren. Biasanya saya duduk sebelah dengan dia. Karena saya berlangganan, maka tempat duduk biasanya juga tidak berpindah-pindah. Awalnya saya hanya berujar saja dalam hati, "eh sering sekali saya bareng orang ini". Tapi terus terang saya tidak pernah menanyakannya. Sudah tahu ya sudah. Cuma yang saya tahu, dia selalu memakai tas pinggang dan Hpnya banyak. Hanya itu, dan kebiasaan saya sekarang begitu sudah di bis, keluarkan buku, kalau capek,...tidur.

Sebelum sampai Purwokerto, bus Jurusan Jogja ini hanya berhenti 1 kali, di daerah Indramayu. Dan biasanya itu pukul 1 atau 2 pagi. Tapi bila ada orang ini, Bis akan berhenti berkali-kali mulai dari daerah cirebon hingga nanti saya turun di Ajibarang. Walaupun tidak pernah lama. Dan laki-laki disebelah saya ini selalu teriak dari sebelah saya kepada kenet, "1 net", atau 2 atau 3. Saya yang masih tertidur kadang kaget, "orang ini apaan sih, mbok yo maju wae ngopo", ujar saya dalam hati. Agak kesel. Dan satu lagi yang buat kesel, Hpnya pasti selalu bunyi bila sudah masuk daerah kanci..brisik..krang kring. Mana ringtone jadul yang dipasang...karena memang ke-3 hpnya model jadul semua..hehehe.

Suatu kali keluar daerah prupuk orang ini sudah buat brisik sekali.ternyata Hp-nya mati semua. Pusing banget sepertinya. Dia tahu saya sudah bangun, akhirnya hp saya yang dia pinjam, "mba saya boleh pinjam hpnya? saya mau telpon, Hp saya low bat semua", kata dia. Saya mempersilahkannya, dan dia menelepon seseorang. Setelah mengembalikannya, dia bilang ke saya, baru menelepon seseorang di daerah ajibarang. Dia mau menurunkan barang, suruh orang menunggu di sana.

Seperti biasa, saya penasaran, saya tanya barang apa. "Jengkol dan Pete mba," jawab dia. Makin penasaran, saya tanya lagi. Akhirnya kami bercerita. "Saya dagang Pete dan Jengkol mba, saya ambil dari lampung. Tepatnya dari daerah Lampung Timur. 2 hari sekali saya bawa ke Jawa. Saya sudah punya pelanggan dari daerah Cirebon, brebes, Ajibarang, Kebumen, Jogja dan Klaten. Karena saya ngejar Pasar Bukaan pagi, saya pake bis ini", terperangah saya. Dalam pikiran saya, apa ga rugi ya?..penasaran saya tanya. "Buktinya saya 2 hari sekali mba. Sampe klaten besok siang, istirahat sebentar, saya berangkat naik kereta ke gambir. Pake Taksaka, sambung damri langsung ke Lampung. Begitu terus mba. Sekali bawa, saya biasanya bawa 15-20 karung jengkol dan pete. Per karung 100 kg", lanjut dia.Haaahhhh...mlongo saya.

Bisa anda bayangkan, di lampung petai (aduh satuan saya lupa), satu ikat besar isinya 100 sisir, di daerah suak tempat saya kerja, hanya berharga 15-30 rb. Di Jawa, 1 sisir bisa berharga 1500-3000 rb rupiah. Berapa untung tiap 1 sisir? 10-15 kali untung. Busyet.....Belum lagi jengkol. Dilampung, kata dia, 1 kg jengkol di petani hanya 1500-2000 rupiah. Begitu dijual bisa sampai 8000-12000 per kg. Berapa kali keuntungan coba?

untung jengkol saja, keuntungan kotor sudah 6 juta sendiri. Belum lagi petai. dan ini lebih banyak dari jengkol. Dan itu 2 hari sekali. Keuntungan bersih per bulan?...OMG.

Saya tidak pernah menyangka ternyata barang bau ini...bisa membuat jadi kaya juga. Pantas sekali naik kendaraan eksekutif tidak pernah merasa berat. Saya..hanya tahu dia lulusan SMA di klaten. Dulu dia hanya iseng saja, membantu ibunya jualan jengkol dan pete di pasar klaten. Tapi pasokan terkadang susah. Akhirnya ada seorang teman yang bilang kalau di Lampung banyak sekali pete dan Jengkol, akhirnya dia iseng ke daerah berhen. Dan dari situ memang pasokan terbesarnya. Kalo dihitung tahun ini dia masih jualan berarti sudah 6 tahun. Sayang...saya lupa nanya namanya.

Pete dan jengkol kekayaan alam yang tidak kalah hebat dari potensi laut, batubara, emas, timah, gas dan seabreg kekayaan lain di indonesia. Apa mau kita lepas juga ke orang-orang itu? Jangan salah, kalo orang barat tahu Jengkol punya potensi sebagai obat diabetes, mungkin saja dia akan ambil itu dari kita. Tinggal kita...mau meninggalkan gengsi dengan mengolah dan memperdagangan jengkol dan petai untuk bangsa sendiri...atau nanti...menjualkan petai dan jengkol untuk perusahaan luar negeri tapi kita berdasi?....

It's all depends on You...

Daging Gulung Mie Balut Kulit lumpia


Buat makanan ini sebenarnya karena kepepet. Ide muncul tidak terduga. Kepepet waktu, kepepet bahan, jadi bahan yang ada di lemari es, dikeluarkan saja. Yang beli hanya kulit lumpia, kebetulan "ngiras-ngirus" ke pasar tadi pagi...ketemu kulit lumpia di tempat langganan saya. Ide dasarnya sebenarnya arem-arem mie, hanya saya kombinasi dengan kulit lumpia. 1 resep, kalo daging ga habis, bisa dibuat martabak mini...ngirit bahan, sasa bisa makan sehat...hanya butuh waktu 1 jam (maksimal untuk mempersiapkan ini)

Bahan
1. 3 ons mie telur, rebus tiriskan
2. Kulit pangsit 10 buah
3. 1 buah telor ayam
4. Daun pisang untuk mengukus

Isian
1. Daging cincang (seadanya saja), saya tadi cuma 4 sendok makan (sisaan)
2. Daun bawang/luncang 1 tangkai
3. Bawang bombay 1 butir, iris membualat saja
4. 3 siung bawang putih, keprek, cincang
5. Saos tiram 1 sendok makan
6. Gula pasir, garam secukupnya
7. Merica secukupnya
8. Pala bubuk secukupnya
9. Air secukupnya

Sambal pencit...
hehehe..kalo yang ini rahasia perusahaan...beli gobek, baru dapat sambal..hehehe

Cara membuat
Isian.
1. Masukkan bawang putih cincang, tumis hingga harum. Masukan bawang bombay, tumis hingga harum
2. Masukan daging cincang, tumis hingga berubah warna, masukan air.
3. Masukan semua bumbu, saos tiram, gula garam, merica bubuk dan pala bubuk.
4. Tunggu hingga air agak berkurang, masukkan daun bawang.
5. Tunggu airnya asat...baru angkat

Proses masak
1. siapkan 1 lembar daun pisang, letakan kulit lumpia.
2. Campur mie yang telah direbus tadi dengan telur kocok (1 butir)..fungsinya hanya perekat saja.
3. letakkan di atas kulit lumpia. isi dibagian tengah dengan daging cincang. gulung kulit pangsitnya, dan bungkus dengan daun pisang.
4. Semat kedua ujungnya dengan lidi (bithing), kukus selama 30 menit
5. Sajikan.
6. Makanan ini tidak perlu digoreng, cukup dikukus saja...lebih sehat, kolesterol lebih sedikit
7. Bon Appetite..

What i got in one year????


Kalau Pandji menulis sebuah buku bagaimana dia bisa menjual 1000 cd dalam waktu 1 bulan, maka saya juga ingin menuliskan pengalaman saya. Bukan bagaimana saya menjual cd, karena memang usaha saya bukan lagu atau musik, tapi lebih dibidang kuliner. Tapi, saya akan menulis apa yang saya dapat selama 1 tahun saya mengelola sebuah warung makan. Janganlah salah, bukan perolehan materi, akan tetapi lebih pada pelajaran berharga yang saya dapat. Harapan saya, pengalaman pindah kuadran saya bisa bermanfaat bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin memulai usaha seperti saya.

Saya tahu, bila dibandingkan dengan banyak orang yang sudah terlebih dahulu terjun kebidang ini, pengalaman saya belumlah seberapa. Tapi perkenankanlah saya membagikan apa yang saya dapat kepada anda.

Saya tidak hendak menakut-nakuti anda, tapi berbagi semangat, berbagi pelajaran yang memang mungkin akan di alami oleh para wirausahawan pemula.

Usaha yang kami kelola adalah usaha bebek goreng khas surabaya, Sego Bebek Samudra cak aji. Merupakan cabang dari kakak sepupu saya sendiri yang sudah 4 tahun ini membuka di kota Cilegon. 1 point keberuntungan saya, pemilik resep adalah kakak saya sendiri, dan atas kebaikan hatinya, saya tidak perlu membayar biaya waralabanya..(hehehe). Satu keuntungan besar bagi pemula seperti kami.

Tanggal 19 Agustus 2009, usaha yang saya kelola ini dimulai. Kami buka di saat Purwokerto dan banyak kota lain sedag marak-maraknya usaha kuliner. Kuliner Bebek maksud saya. Binatang yang punya sirip di kakinya ini, mendadak jadi incaran banyak orang. Image jorok, image amis, image apek seakan terhapus saat ini. Saya sendiri terasa asing dengan olahan bebek. Jangankan memasak, makan dagingnyapun sangat jarang dulu. Ya karena image-image itu.

Image jelek tadi seakan terhapus tahun 2008, ketika bertugas di Anyer, saya sempatkan mampir ke rumah sepupu saya mas Aji. Dialah pemilik resep sekaligus pemilik usaha bebek goreng Samudra Cilegon. Begitu saya makan daging bebek olahannya, lidah saya langsung mengirim respon ke otak saya, mengolahnya dan memberitahukan pada mulut saya, dan saya spontan berkata..."ini enak banget mas aji, seperti bukan bebek"

Semenjak itu, ada semacam impian yang saya pendam dalam hati saya. Saya pingin buka usaha seperti ini juga. Hanya sebatas impian. titik.

Tahun 2009, bulan Juni, selepas cuti, ditempat kerja saya, ada satu kejadian yang membuat saya berpikir keras dan berulang-ulang. Apakah saya akan terus nyaman bekerja di tempat ini? Bulan Juli akhir, saya memutuskan setelah proses berpikir itu, saya memutuskan, saya ingin keluar dari pekerjaan saya. Tapi saya harus bagaimana?

Allah Maha Kaya, ada saja jalan rejeki yang Dia tetapkan bagi setiap hambaNya. Adalah kakak sepupu saya, Mas Toto dan Mas Aji yang membantu saya mewujudkan impian saya. Akhirnya tanggal 19 Agustus 2009, dengan persiapan yang sekarang saya sadari sangat mimim, warung kami dibuka. Sego Bebek Samudra Cak Aji cabang Cilegon di Purwokerto.

Kami bersemangat melakukan pekerjaan baru kami. Apalagi ini adalah usaha yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan saya terdahulu. Benar-benar bersemangat. Ada 1 hal yang saya yakini, makanan saya enak, di cilegon laris, pasti di Purwokerto juga laris.

Tapi apakah benar seperti itu?

Seandainya seperti itu, maka saya tidak akan pernah bisa bilang, bahwa sekarang ini, saya punya kekayaan batin yang lebih besar dari sebelumnya.

Jawabannya tidak temanku. Kebetulan, kami buka awal puasa, yang memang sudah dipercaya banyak orang, bulan berkah bagi semua orang. Termasuk pedagang. Jadi pada bulan pertama masih rame.

Cobaan mulai datang di bulan ke-2. Sekitar September akhir, setelah lebaran 2 minggu. Warung kami menjadi sepi. Tapi satu yang patut kami syukuri saat itu, saya sudah mempunya pelanggan tetap, walaupun baru 3 orang. Ketika itu, saya mempunyai 2 orang asisten, dan saya dibantu adik saya dalam urusan administrasi. Penghasilan menurun, biaya pegawai saya waktu itu lumayan tinggi untuk ukuran purwokerto. Bahan-bahan setelah lebaran kala itu masih belum stabil. Tapi cadangan tabungan saya waktu itu masih mencukupi. Jadi masih tenang saja.

Bulan ke-3. Saya ingat betul, pada bulan ini saya sudah mulai berpikir bagaimana cara menaikkan omzet. Sementara, pelanggan belum bertambah, biaya pegawai dan operasional masih tinggi. Akhirnya, stress sudah mulai menyerang saya. Yang ada dalam pikiran saya, saya harus melepas satu orang asisten saya. Tapi masalahnya, bagaimana saya tega bilang ke dia?. Entah bagaimana (yang pasti Allah yang atur), 1 orang asisten saya mengundurkan diri, karena sakit.

1 masalah lepas dari saya. Beban pikiran semakin berkurang. Tinggal kami ber-3 yang ada di warung. Saya dan adik saya bergantian bertugas. Ada shift pagi dan malam. Karena kecapaian dan beban pikiran terhadap warung, mulai bulan ini, saya dan adik saya hampir tiap hari bertengkar. Saya adalah orang yang sudah biasa kerja dengan banyak teman (maaf, anak buah), biasa memerintah, sementara adik saya, anak yang baru lulus dari kuliah yang belum punya pengalaman kerja sama sekali.
Perubahan yang sangat nyata saya rasakan saat itu. Kami yang tadinya tidak pernah bertengkar, sekarang seperti lauk wajib. Dan saya capek. Berbeda pendapat ternyata sangat menguras tenaga dan pikiran. Puncaknya saya sempat memukulkan helm padanya dan itu membuat hati saya sakit.

Kejadian seperti ini terus berlangsung hingga bulan Januari 2010, seingat saya. Bertengkar merupakan menu wajib kami. Tapi saya sadari atau tidak, inilah kesempatan bagi kami untuk menyesuaian diri kami masing-masing. Bekerja dengan saudara, memang harus lebih berhati-hati. Saling menghargai secara profesional, tanpa melihat siapa kakak dan siapa adik. Saya pikir itu kunci utama. Pada saat itu pula, banyak nasehat melingkupi kami. Diantara, ada 1 cerita yang membuat kami berpikir ulang, kami telah lupa niat awal kami berdagang. Keberkahan. Cerita ini berasal dari Bapak teman kami di Solo. Dia, demi keberkahan yang diinginkan, setiap hari, tidak pernah menyisakan 1 makananpun untuk dijual lagi besok hari. Selalu dia bagikan ke orang-orang yang membutuhkan. Inilah yang sudah kami lupakan. Tidak banyak, tapi kami berusaha membersikannya setiap hari.

Alhamdullilah Keadaan warung sedikit membaik, omzet penjualanpun sudah berangsur naik, walaupun masih lambat. Akan tetapi ternyata, sekali lagi, kondisi ini juga tidak merubah kondisi keuangan warung. Masih saja dana cadangan kami keluar. Sehingga bulan Februari, kami sempat berfikir untuk menutup sementara warung kami. Beda pendapat kembali muncul, pertengkaran juga semakin sengit. Dan ujung-ujungnya adalah, fisik dan batin kami terkuras habis untuk ini.

Saat kami sudah mulai lelah, tabungan kami sudah sangat tipis, karena tidak terasa sudah terkuras ke warung. Pertolongan dan jalan keluar mulai ada. Teman, Sahabat dan Saudara. Sebagai seorang yang merasa sudah banyak pengalaman, saya, dengan sombongnya sangat jarang mendengarkan omongan orang lain, saudara sendiri dan terutama Tuhan, Sang Pemilik Rejeki. Ketika bulan Maret awal, saya dalam keadaan puncak kesal lahir dan batin, suatu malam, seperti dipaksa bangun diakhir malam, seperti di urai satu persatu kesalahan saya. Dan akhirnya saya sadari, bahwa keadaan ini harus dimulai dari perubahan diri saya sendiri dahulu. Dan harus jujur. Saya harus terjun sendiri. Mulai dari nol lagi. Dengan melakukan segala sesuatu sendiri

Akhirnya, dengan pemikiran panjang, saya jelaskan pada asisten saya bahwa saya sudah tidak mampu mengajinya. Alhamdullilah dia mau mengerti, dan alhamdullilah disebelah warung saya ada pembukaan kafe. 1 masalah sudah selesai. Akhirnya, mulailah saya dan adik saya, Frida, berdua mengelola warung. Saya belanja, masak dan mengatur keuangan sendiri. Sementara frida bertanggung jawab kepada kerapian warung dan opname barang. Capek sekali, tapi karena tenaga kami sudah habis ke warung, kami menjadi semakin jarang bertengkar. Proses saling mengerti sudah mulai terjadi, walaupun di antara kami masih dongkol.

Bagaimana warung setelah ini? Tidak diduga, pelanggan kami sudah mulai bertambah. Mulai lagi orang baru yang datang ke warung kami. Salah satu pelanggan setia kami adalah hendra dan Lala. Saya sangat yakin, ini jalan Pertolongannya bagi kami. Mereka menurut saya adalah orang yang pandji sebut sebagai Early adaptor (dalam bukunya pandji). Ini keberuntungan saya no.2.

Jujur saja, saya adalah orang yang tidak suka dengan penyebaran brosur. Sehingga saya hanya sekali saja menyebarka brosur, di awal buka warung, dan jumlahnya hanya 500 lembar. dan itupun tidak habis. Kenapa? Karena sasaran saya adalah pelanggan setia. Saya akan jelaskan pada tulisan saya yang lain. Tapi benarlah bahwa setelah kedatangan mereka berdua, pelanggan kami bertambah. Baru saja 1 bulan berjalan, cobaan batin kami mulai datang lagi. Ada warung bebek dengan merek, yang kata orang sudah terkenal, dibuka, persis di sebelah kanan kami. Subhannallah.

Saya tidak hendak bercerita, membual atau bergosip tentang itu. Biarkan saja. Toh jalan rejeki bukan ditentukan manusia. Minggu pertama dan kedua setelah pembukaan warung bebek terkenal itu, omzet kami turun drastis. Dari angka sudah mencapai hampir 10 ekor perhari menjadi 1 ekor perhari, bahkan kami sempat hanya menjual 1 porsi sehari. Bisa anda bayangkan bagaimana jantung dan hati kami ditempa?....subhannallah.
Pertolongan Allah kembali datang, Dia datangkan teman baru saya. mas Adi kuncoro, tempat saya sms berisi curhatan tidak mutu. Alhamdullilah saat itu, dia mau menanggapinya. Dia sering menasehati saya, bagaimana cara mengatasi ini, sholat malam yang selalu dia nasehatkan pada saya. Dan itu sangat berarti untuk saya. Dan satu lagi....The Secret...acuan baru bagi saya bagaimana cara menarik banyak orang masuk ke warung saya.

Inovasi, 1 hal yang kami lakukan untuk memperbaiki keadaan kami. Akhirnya saya belajar masak pada seorang koki. Akhirnya munculah menu baru, bebek goreng bakar dengan percobaan hampir 1 bulan. Lagi-lagi, hendra dan lala membantu saya, hingga tercipta menu bebek bakar yang lain dari yang lain, menggunakan madu. REspon pelanggan .....ternyata ok.

Sedikit, demi sedikit, keadaan mulai berangsur membaik. Tak dinyana pula, cobaan lagi yang datang. Ternyata, koki yang mengajari saya itu, berusaha mencuri resep bebek saya. Gemes bukan main....maaf...kurang ajar. 1 hal juga yang saya lupa, saya hampir lupa menjaga amanat. Kerahasiaan bumbu. Gusti....dan ternyata, dia hendak menjadi koki rumah makan bebek baru di depan alun2 purwokerto. Dan ada tahu, sekarang dia berpindah lagi, di warung bebek depan saya, dan dia yang memperkenalkan sambal yang hampir mirip dengan sambel pencit di tempat kami. Sabar...pelajaran ke sekian.

Bebek goreng dan bebek bakar madu kami, mulai terkenal dikalangan mahasiswa. Peran Early Adapter Hendra dan Lala-lah yang berfungsi. Mulut ke mulut. Keadaan berangsur membaik. Tak dinyana, hendra dan teman-teman suatu saat menciptakan logo gobek dan segala macam kelengakapan termasuk brosur bagi kami. Saya menangis ketika itu. Pertolongan Allah datang lagi. Tanpa saya minta, tanpa saya perintah, tanpa biaya..mereka bergerak sendiri. Membagi informasi dan brosur pada teman-teman mahasiswa.

1 hal yang membuat miris, ketika mereka datang, paket yang hanya bisa mereka jangkau, hanya paket 5, leher atau hati. Daging bebek? berat bagi kantong mereka, 17 rb?. Akhirnya saya dan frida sepakat menganti segmen pasar kami. Dari umum ke segmen yang tidak dijamah oleh pengusaha bebek lain, mahasiswa dan menengah ke bawah. Alhamdullilah kami menemukan supplier yang baik, hingga kami bisa menyediakan daging bebek yang dapat kami sajikan dengan harga mahasiswa, 10 rb rupiah dan kini 11 rb rupiah 1 porsi.

Segmen pasar yang berubah ini, jelas menaikkan jumlah bebek yang kami sajikan tiap hari. walaupun omzet masih dibawah BEP. tapi untuk sementara kami tidak ingin membahas itu, bisa stress. Target kami, pelanggan bertambah lewat mulut ke mulut.

SEkarang, di bulan puasa ini...seakan terjawab sebagian perjuangan batin kami berdua. Dengan dibantu 1 orang part timer (saya ambil dari mahasiswa yang sedang melakukan tugas akhir), Hamdan namanya, kami melayani pelanggan dari pukul 4 sore dan paling banter pukul 20.00 wib. Perjuangan selesai?

Tidak....dan itulah seninya menjadi seorang pedagang. Sabar dan selalu ada hal yang memacu otak kanan kiri bekerja setiap saat. Tapi Demi Allah....nikmat luar biasa. dunia ini, mengubah hidup saya, pola pikir saya, nilai pribadi bagi diri saya, banyak hal. Silahturahmi menjadi satu pintu rejeki. Penghargaan terhadap pelanggan, Menguji kesabaran dan keiklasan hati. Dan terakhir....bahwa Kepasrahan adalah kuncinya. Benarlah sms mas adi kepada saya suatu hari....dan jangan bertanya kenapa, dan saya tidak hendak bertanya.

Sekarang, kekayaan materi...belumlah saya dapat, tapi bila suatu saat, saya sementara meninggalkan dunia ini, saya berjanji....tidak akan pernah saya meninggalkan selamanya. Karena dunia ini....adalah dunia indah dengan 9 pintu rejeki

terima kasih untuk semua orang yang sudah membantu saya...

Sayur Ceker Gambas Asam Manis


Di bulan Ramadhan yang sering kali terlupa adalah asupan sayur, sehingga banyak orang mengalami gangguan pada saluran pencernaan. Salah satu sayur yang jarang saya makan (karena adik-adik saya bilang ga suka) adalah gambas. Orang di daerah Purwokerto biasa menyebutnya sebagai Oyong. Sayuran ini, banyak mengandung air dan pasti seperti kebanyakan sayur lain banyak mengandung mineral. Salah satu alasan adik-adik saya tidak suka sayuran ini, karena hambar sekali saat dimasak. Menurut saya bukan hambar, tapi karena kandungan airnya yang banyak, seringkali bumbu yang sebenarnya sudah pas, terencerkan kembali oleh air bawaan sayur ini. Tapi seperti kebanyakan keluarga ketimun, sayuran ini bermanfaat untuk mendinginkan tubuh dan pasti enak di makan jika diolah dengan tepat.

Resep:

0.5 kg gambas/oyong muda buang alurnya
10 buah ceker ayam (rebus dengan 0,5 L air, air kaldu jangan dibuang)
1 buah wortel sedang, potong setengan lingkaran
0,5 buah kembang kol, iris dan jangan terlalu kecil
2 butir tomat merah segar
5 buah cabai merah besar
5 butir bawang putih, keprek
setengah butir bawang bombay
Garam, gula dan merica halus secukupnya
Saos tiram secukupnya
Kecap manis secukupnya

Cara membuatnya
1. Tumis bawang putih hingga harum, masukkan bawang bombay hingga harum
2. Masukkan kaldu sekitar 125 ml, masukkan ceker.
3. Masukkan semua bumbu, setelah mendidih, masukan sayuran.
4. Gambas terakhir dimasukan.
5. Siap disajikan.
6. Sayur ini lebih baik disajikan dalam keadaan hangat dan sekali habis.
7. Selamat mencoba.....

Kraca...Menu Khas Ngapak tapi asal dari Demak????


Bingung? mari saya terangkan. Setiap pagi, dalam bulan Ramadhan ini, ada yang berubah dalam jadual harian saya. Lebih santai di pagi hari, karena warung buka pukul 16.00 wib. Perubahan jadual ini, menyebabkan pemandangan di Pasar Manis, Purwokerto-pun berubah. Lebih rame dari hari-hari biasa.

Di depan pasar, akan banyak dijumpai pedagang musiman saat ramadhan. Berderet mereka di depan tembok pasar. Kalau saya tidak salah hitung, ada sekitar 10 orang yang menjualnya. Dan hebatnya, setiap pagi, penuh dengan pembeli. Bila anda ingin memasak sendiri dan berburu kraca, jangan lebih dari jam 7. Karena kraca yang akan anda peroleh sudah sortiran banyak orang.

Apa sih kraca? Anda bisa googling untuk mengetahuinya. Banyak sekali yang sudah mengangkat tentang kraca di media ini. Tapi dengan senang hati saya juga hendak menambahkannya.

Beberapa hari lalu, saya sudah mengunggah gambar kraca. Reaksinya? hehehe...macam-macam. Ada yang bilang ini sih tutut keong!..memang betul. Itu hanya masalah bahasa, di Jawa barat, kraca dikenal sebagai tutut keong. Tapi kalo orang purwokerto, begitu denger kraca, reaksinya langsung....pinginnnn!!!. Lucu ya? Ya itulah seninya di Indonesia. Jadi ingat sebuah iklan, "ini teh susu!", But, i love indonesia much.

Keong ini biasanya hidup di sawah. Gastropoda ini biasanya lebih menyukai habitat yang berair. Perairan dangkal dengan aliran air yang tidak deras. Dan satu lagi yang menarik, biasanya keong ini hidup pada perairan yang jernih dan bersih. Artinya ada 2 menurut saya, 1. Bellamna javanica (keong jawa/sawah)ini dapat digunakan sebagai indikator biologi, 2. tidak perlu khawatir jorok pada saat anda menyantap kuliner ini.

Kraca merupakan santapan dengan kandungan gizi yang sangat tinggi terutama protein. Dan kalau semacam itu, pasti bagus untuk pemulihan kondisi tubuh.

Tapi menurut saya, ada yang lucu, ketika saya membeli kraca mentah di pasar manis. Ketika saya tanya penjualnya, kraca ini dari mana?, dia menjawab dari Daerah Demak. Terus terang, saya kaget. Agak terperanjat maksudnya. Ketika saya kecil, sering sekali saya dan teman-teman sepermainan saya, mencari keong ini dipersawahan sepulang sekolah. Sekarang tidak ada lagi?

"Sampun jarang mba wonten purwokerto, cobi mba'e prentah tiang, ngge madosi teng daerah beji, bayar 50 mawon nek wonten?" Kata si Bapak sambil nyengir sadis. Gludak...sebegitu parahkan?. Kata Bapak itu selanjutnya, satu orang pedagang, saat Ramadhan biasa meng"ekspor" keong dari Demak sekitar 2 ton/3 hari. Bisa anda bayangkan? Kalo saya melihatnya ini peluang bisnis ya? hehe. Bagaimana kalo diternakan saja? tapi lagi-lagi...makanan buatan terkadang menyebabkan citarasa bahan menjadi rusak

Kraca...ini merupakan nama sayur dan nama hewan. Jadi bila anda di Purwokerto, anda menyebut kraca, itu ya nama sayur. Kraca matang. Bila ada tertarik, saya ingin menyertakan resep membuat kraca khas Purwokerto. Dijamin, bebas kolesterol, segar, kaya gizi, dan menghangatkan. Saya malah berfikir, dari tanggapan teman-teman FB..kenapa tidak membuat kraca di ibukota ya? Ada yang berminat?

Resep
Bahan :
1. 1 kg kraca
2. 3 batang sereh/kamijara
3. 1 ruas jari jahe
4. 0,5 ons cabe rawit merah
5. 1 batang laos
6. sedikit kunyit
7. 2 liter air
8. 5 siung bawang putih
9. 10-15 siung bawang merah
10. gula dan garam secukupnya(yang ini harus pas karena air kaldu akan dinikmati)

Cara membuat:
1. Cabe rawit, bawang, dan kunyit haluskan. Tumis semua bumbu daun (sereh, daun salam dan laos) Untuk cabe, hanya perlu kasar saja, ini berfungsi juga sebagai garnis pada saat penyejian.
2. Tumis bumbu tersebut hingga harum. Masukan air tunggu hingga mendidih.
3. Masukan kraca
4. Masukkan gula dan garam.

Catatan : membuat kraca, kelezatan terakhir adalah air kaldunya. Karena itu, banyak orang yang tidak percaya diri membuat masakan ini. Tapi saya yakin....You can do it!!!..Selamat menikmati Ramadhan dengan kraca.

Bapak.......Sebuah Memoar

Karya ini sebenarnya adalah karya adikku, karena sampai saat ini belum satu katapun yang bisa kupersembahkan untuk Bapak Saya. Kuambil dari blog adik saya.....atutkus.multiply.com..Bedanya sama kamu tut, besok ku upload foto Bapak. Kecintaan dan kebanggaan kami, anak-anakmu.....Bapakku tercinta

19 Juni 2008

Saya membuka Google, dan mencoba mencari nama belakang saya, nama keluarga saya.

Mengejutkan!
Dengan mesin pencari favorit yang menjadi kesukaan ayah saya ini, tidak saya dapatkan satu pun file yang mampu mengidentifikasikan nama keluarga saya itu, yang tentu saja nama ayah saya, KUSNEDI.

Hal ini buat saya berarti : tidak ada sejarah mengenai ayah saya dan bahkan sejarah tak mencatat nama ayah saya itu.

UUUUggggghhhh!
Betapa menyedihkan!
Sepertinya eksistensi ayah saya, yang hanya sebentar didunia ini, diragukan!
Padahal, tentu saja, bagi saya dan keempat saudara kandung saya –mba esti, mba nik, frida dan sasa-, eksistensi Bapak –begitu kami biasa memanggilnya-, tak pernah kami
dipertanyakan.

Dia ada dimanapun kami berada.
Tentu saja,
karena darahnya mengalir dalam darah kami.
Selain itu, pengaruh pandangannya juga sangat mewarnai hidup kami. Kemandiriannya, keteguhannya memegang prinsip hidup, kepeduliannya terhadap bumi dan makhluk dibumi ini, dedikasinya pada nilai yang ia yakini, cintanya, dan segalanya.

Saya ingat dalam masa sakitnya, dipagi hari ketika saya membuka pintu kamarnya, dia selalu sudah dalam posisi duduk ditepi tempat tidur yang sudah dia rapihkan. Dia selalu melakukan hal ini setiap pagi meskipun keadaannya saat itu, mungkin bagi orang lain, sangat tidak mungkin utuk dilakukan. Dia menderita diabetes mellitus (DM), dan terdapat gangren di kedua kakinya yang membuatnya hanya bisa menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya. Melihat Sartono Mukadis di TV selalu mengingatkan saya kepada Bapak.
(ooh…betapa sulit menulis ini….Tuhan, berikan saya kekuatan untuk meneruskan tulisan ini…!)
Sebelumnya, sudah 8 tahun –sejak 1996- dia menderita DM, beberapa komplikasi terjadi dan menyebabkannya harus menggunakan tongkat untuk membantunya melangkah.

Bagi Bapak, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, selama kita mau berusaha. Keterbatasan finansial yang dialaminya bukan merupakan penghalang bagi dia untuk mencapai apa selalu yang diinginkannya, pendidikan. Hal inilah yang selalu dia kedepankan. Sebagai anak seorang klerk dan penjual kamir –kue khas purwokerto-, dia sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk bersekolah tinggi, apalagi dikeluarganya ada 3 orang adik yang juga membutuhkan biaya pendidikan. Namun hal ini bukan barrier untuk bisa bersekolah. Dia berjualan apa saja, dari kamir hingga lotre untuk melanjutkan sekolahnya serta 3 orang adiknya itu. Hingga akhirnya di usia 47 dia berhasil meraih gelar masternya dibidang Demography (M.Sc.) dari Florida State University. Dia adalah orang pertama dari tempatnya bekerja yang mendapatkan gelar S2 dari Universitas di luar negeri.

Bapak menempuh jenjang pendidikannya dengan beasiswa. Dia membekali dirinya untuk mendapatkan pendidikan dengan autodidak. Dia mengasah sendiri kemampuan bahasanya. Bukan dengan kursus. Hanya dengan buku-buku bacaannya, radio yang ia dengarkan dan sahabat penanya. Jejak-jejak usahanya ini masih dapat saya temukan dirumah saya.

Karena pengalamannya inilah, –dan sebenarnya karena kondisi finansial yang sulit- saya dan saudara-saudara saya tak pernah mengalami masa-masa belajar diluar rumah selain disekolah. Kami harus belajar sendiri. Mandiri. Alih-alih mendaftarkan kami kursus bahasa Inggris, dia menjejali kami dengan berbagai bacaan yang sengaja ia subscribe untuk bahan kami belajar. TIME Asia, Newsweek, Fortune, Far Eastern Economic Review (FEER), Forbes, National Geographics dan Reader’s Digest adalah berbagai judul majalah yang ia sediakan. Inilah yang membuat saya terkadang –walaupun sangat jarang- bisa merasakan kalimat bahasa Inggris mana yang benar dan mana yang salah tanpa saya mengerti alasannya.

Semuanya ia lakukan untuk satu hal yang diyakininya, pengayaan akal!

Keyakinannya akan pendidikan dan segala hal yang berbau pendidikian membuatnya mendedikasikan seluruh hidupnya untuk hal ini. Secara kebetulan (tidak ada kebetulan didunia ini, karena semua telah diatur oleh Penguasa, Allah SWT), dia bekerja disektor pendidikan. Dia seorang Dosen di Perguruan Tinggi Negeri di Purwokerto. Semua orang yang mengenalnya tak pernah meragukan dedikasinya untuk dunia pendidikan. Setelah sakit ditahun 1996 yang mengharuskannya memakai tongkat untuk berjalan, dia tak pernah sedikitpun melalaikan mahasiswanya.

Beberapa kali saya sempat menemaninya mengajar. Sebelum dia sakit, saya tak pernah khawatir dengan aktivitasnya, namun setelah sakit dan kakinya tak mau diajak kompromi, maka sering saya, kakak dan ibu bergantian menemaninya menjalankan aktivitas . Ia selalu berkeras untuk mengendarai mobil sendiri. Sepertinya ada kenikmatan tersendiri yang datang saat ia nyetir.

Bapak akan tiba dikampus tepat jam kuliahnya dimulai. Jika pegawai administrasi yang mengatur jadwal kuliahnya adalah pegawai lama, maka ia akan mendapatkan ruang kuliah di lantai bawah. Masalah datang jika pengaturan ruang kuliah dilakukan oleh pegawai baru. Bapak beberapa kali mendapakan jadwal mengajar dilantai 2, yang untuk mencapainya harus dibutuhkan effort yang sangat besar.

Masih terasa genggaman tangannya di tangan saya, ketika saya bantu dia berjalan menaiki tangga. Tangan kirinya berpegangan di handrail, sedang tangan kanannya memegang tangan kiri saya. Seolah dia mempercayakan dirinya pada saya (namun waktu itu saya tak menyadarinya). Tongkat dan tas-nya saya pegang. Sampai di lantai 2, Ia nampak sangat kelelahan.

Mengikuti kuliahnya selalu menyenangkan. Serasa kuliah gratis. Serasa dapat beasiswa Chevening. Ia duduk dimeja jika mengajar, dengan terlebih dulu meminta maaf kepada mahasiswanya karena ia tak bisa berdiri. Ia selalu terlihat gembira saat mengajar. Dia mencintai kegiatannya itu. Ia tak pernah terlihat menyebalkan dikelas, bahkan jika ada kejadian yang membuatnya jengkel, kamilah dirumah yang menjadi sasarannya. Tapi kelakuan mahasiswa dimana-mana sama saja. Ada saja mahasiswa yang tak memperhatikannya. Saya ingat betapa inginnya saya marah kepada mereka. Tapi biarlah…, toh yang memperhatikan Bapak masih lebih banyak prosentasinya dibanding mereka yang tidak.

Bahasa Inggris adalah kecintaannya yang lain. Latar pendidikannya adalah Ekonomi, namun seringkali ia mengajar bahasa Inggris. Dengan berbekal bahasa inggrisnya yang ia pelajari secara autodidak, beberapa kali ia menulis tentang pendidikan bahasa Inggris di Indonesia dalam beberapa jurnal. Ia tidak setuju sama sekali dengan model pelajaran secara “CONVERSATION” yang seringkali tidak memperhatikan grammar. Ia juga seringkali menyampaikan hal ini kepada kleganya di kampus. Mungkin karena hal inilah beberapa orang tak menyukainya.

Kemampuan ini, kemudian membawanya menjadi salah satu dari tim penceramah dalam pelatihan penulis dan penerjemah buku ajar nasional sejak tahun 1992. Dia pun telah menerjemahkan beberapa buku, yang semuanya dibidang ekonomi, dan sebuah novel. Berikut ini beberapa buku terjemahannya:

1. Intermediate Accounting, 7th ed. (Smith & Skousen) menjadi Akunting Lanjutan,
diterbitkan oleh Pen. Erlangga, Jakarta (1983).

2. Accounting Principles, 13th ed. (Fess & Niswonger) menjadi Prinsip-prinsip Akun-
ting, diterbitkan oleh Pen. Erlangga, Jakarta (1983).

3. Price Theory and Applications, 3rd ed. (Hirshleifer) menjadi Teori Harga dan Pene-
nerapannya, diterbitkan oleh Pen. Erlangga, Jakarta (1985).

4. Paths to Power (Natasha Josewofitz) menjadi Menuju Eksektuif Puncak, diterbit-
kan oleh Pen. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.

5. Introduction to Management Accounting, 6th ed. (Horngren) menjadi Pengantar A-
kuntansi Manajemen, diterbitkan oleh Pen. Erlangga, Jakarta (1986, 1990).

6. V-2; The Nazi Rocket Weapon (Walter Dornberger) menjadi V-2 dan Hitler, diter-
bitkan oleh PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta (1989).

7. Managerial Accounting; Concepts for Planning, Control, Decision Making, 5th ed.
(Ray H. Garrison) menjadi Akuntansi Manajemen; Konsep Untuk Perencanaan,
Pengendalian, dan Pengambilan Keputusan, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung (1997).

8. Changing Course; A Global Business Perspective on Development and the Envi-
ronment (Stephan Schmidheiny) menjadi Mengubah Haluan; Industri Berwawas-an Lingkungan, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung. (Bekerja sama dengan Dinas Penerangan Kedubes A.S. Jakarta, diluncurkan pada tgl. 21 April 1995).

9. The Language of Trade (Michael B. Smith dan Merritt R. Blakeslee) menjadi Baha-
sa Perdagangan, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung (1995). (Bekerja sama de-
ngan Dinas Penerangan Kedubes A.S., Jakarta).

10. Personnel Management (Margaret Attwood & Stuart Dimmock) menjadi Manaje-men Personalia (selesai dalam 24 hari) diterbiktan oleh Penerbit ITB, Bandung (1999/2000).

11. The Return of Depression Economics (Paul Krugman). Telah selesai diterjemahkan
(27 hari). Akan diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung bekerja sama dengan
Kedubes Amerika Serikat, Jakarta.

12. Contemporary Business (Boone). Telah selesai diterjemahkan dan akan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga, Jakarta.

(daftar ini saya ambil dari CV-nya secara sembunyi-sembunyi!)

2 minggu sebelum dia pergi, dia baru saja menerima tawaran dari penerbit Salemba untuk menerjemahkan lagi sebuah buku. Sayang sekali kerja sama ini tidak pernah terwujud.

Kecintaannya yang lain, adalah burung! Beberapa kali Ia membeli Beo yang Ia latih sendiri. Tiap pagi, sambil membaca koran dan meneguk kopi, Ia selalu mengajak Beo-nya ,yang selalu Ia namakan Bawor (MASKOT BANYUMAS- atau bagong dalam bahasa jawa), berbicara. Teringat saya waktu dia membeli senapan angin dan mencobanya mengenai suatu sasaran (yang berupa benda). Suatu kali, ia sempat mengarahkan senapannya itu ke udara dan tanpa sengaja, mengenai seekor burung kuntul. Ia tak mengatakannya kepada kami, namun selama beberapa hari kami tak menjumpainya makan sesuap nasipun. Ia shock, merasa bersalah telah menembak secara tak sengaja. Hal itu kami ketahui beberapa hari kemudian setelah dia menceritakan perkaranya. Kasihan sekali Bapak waktu itu. Dari Bapak kami belajar menghargai makhluk Tuhan.

Dari Bapak kami menghargai manusia. Tak pernah sekalipun Bapak tak menghargai tukang parkir, pengamen atau siapapun yang membantunya. OB dikampus juga selalu berebutan mencucikan mobil/motor Bapak.

Mobil juga merupakan teman tercinta yang Bapak punya. Mobil Carry biru, yang membawa Bapak kemanapun Bapak mau. Jalan-jalan! Hobinya yang menular ke saya dan semua anak Bapak karena disaat anak-anak seumuran saya pacaran dan menghabiskan waktu jalan-jalan bersama pasangan mereka, kami malah ikut Bapak dan Ibu jalan-jalan. Kemana saja! Hampir setiap hari minggu kami habiskan untuk jalan, sekedar makan seafood di pantai teluk penyu, makan pecel di baturaden, minum degan di bendungan serayu atau Cuma mengitari karisidenan Banyumas. Ahhh….Bapak!

Dia membuat saya merindukan semuanya. Merindukannya. Saya tak berharap dia merindukan saya, karena insya ALLAH doa saya selalu bersamanya. Karena saya mencintainya. Iapun sangat mencintai saya, kakak-kakak saya dan adik-adik saya. Dia mencintai kami semua! Terutama Sa!

Sayangnya, cintanya pada kami harus terhenti, karena cintanya pada Ibu-his greatest love of all- dan cinta ALLAH padanya. Mencintai Ibu membuatnya harus berpisah dengan kami. Cintanya yang sehidup-semati pada Ibu membuatnya kehilangan semangat untuk hidup, ketika Allah memanggil Ibu 19 Juli 2004.
Saya ingat, hari-hari sepeninggal Ibu, sangat membuat Bapak menderita. Sering saya temui Bapak sedang menangis. Bahkan pernah dia bilang “Untuk apa Bapak hidup kalo Ibu tidak ada?” Dan pertanyaan Bapak akan terhenti jika saya mengingatkan tentang Sasa. Semangatnya untuk melanjutkan hidup akan kembali jika mendengar nama Sasa. Sepeninggal Ibu, Bapak hanya tersenyum jika mendengar suara Sasa, yang saat itu dibawa mba Nik ke Makassar.
(ah…Bapak…menulis ini membuat atut banjir airmata….!)

Diantara cinta siapapun didunia ada, kita sering lupa –saya terutama- bahwa ada cinta yang lebih besar dari cinta siapa saja. Cintanya pemilik cinta. Cinta ALLAH AR_RAHMAN. Dan cinta pemiliknya membuat Bapak harus berhenti mencintai saya dan semua saudara saya. Tiga hari menjelang Idulfitri, 10 November 2004 (115 hari setelah Ibu) Bapak menemui pemilik cinta seluruh jagad raya dan seisinya dan memasrahkan kami kepada-Nya! Tugas Bapak sebagai kepanjangan tangan Allah selesai tepat dihari Pahlawan. Sebuah penghargaan yang diberikan Allah kepada Bapak, yang selalu ingin dikenang sebagai GURU –pahlawan tanpa tanda jasa-.
1 Juli 2008
Pagi ini untuk kesekian kalinya, saya mencoba mencari nama itu, dan saya tambah sebuah keyword yaitu erlangga -nama sebuah lembaga penerbitan yang menerbitkan beberapa buku bapak- dan alhamdulillah...pencarian yang memuaskan! semua buku yang sudah saya sebutkan nampak di situ.

I luv U Bapak…!
(akhirnya tulisan ini bisa selesai! Sedianya tulisan ini mo atut post 19 Juni kemarin, sebagai hadiah ulang tahun buat Bapak, tapi…baru hari ini atut bisa!
I only want you to be proud of me!!!)
----mungkin kesannya tulisan ini kayak tulisan Dino Pati Jalal mengani SBY, namun biarlah, toh saya mengagumi ayah saya....mencintainya bahkan!----